Living a good life?

What is a good life to you? Hidup kaya, punya mobil mewah, or kalau konteks Singapore punya “5C’s”, apalagi ngga usah kerja tapi bisa hidup enak. Well that sounds like a good life. But is that really a good life? If that’s a good life then what does we call the life we are living now, today?

Beberapa dari kita datang dari kalangan yang berkecukupan. Kita bisa mengecam pendidikan komplit dari TK sampai sekarang kita di universitas. Betapapun mungkin orang tua kita masing-masing struggle untuk menyekolahkan kita, toh kita masih bisa sekolah sampai sekarang. Buat kita yang di NTU, kita bisa sekolah sampai luar negri! Wow!

We dream of having a happy life- we all does. Egoisme kita masing-masing membawa kita untuk hidup kedalam apa yang kita anggap sebagai hidup yang ideal, hedonisme pribadi kita masing-masing. Teman, benarkah yang kita impi-impikan itu adalah hal yang Tuhan ingin lihat dari kehidupan kita?

Kita sering merasa kurang ’nyaman’ atau ’ingin lebih’ dengan apa yang sekarang sedang kita hidupi. Banyak mahasiswa yang kita kenal tidak terlalu memikirkan kuliahnya, malah sibuk dengan urusan masing-masing, have fun, dolan. Disisi lain hati kita harus teriris-iris melihat betapa banyaknya murid-murid yang harus putus sekolah setelah SD untuk membantu orangtuanya memberi sesuap nasi buat adik-adiknya. Kita juga mungkin sering menaruh uang kita untuk hal-hal yang sebenarnya tidak kita butuhkan, be it pakaian, alat-alat elektronik, atau apapun itu. Tapi pernahkah kita berfikir bahwa uang itu bisa dipakai untuk membantu mereka yang selalu berfikir ”bisakah saya makan hari ini?”.

Berbahagialah kita yang bisa sekolah meskipun harus mengirit untuk biaya hidup, punya uang buat beli handphone meskipun masih monochrome, bisa makan dengan pilihan bebas meskipun budget terbatas, punya pekerjaan meskipun cuma pegawai, punya orangtua yang bisa mendukung kita, tinggal di daerah yang sehat bersih dan aman, bisa minum air bersih, punya pakaian yang layak untuk dipakai dan lain sebagainya. Jika anda masuk didalamnya, bersyukurlah kepada Tuhan dan berbahagialah, karena anda masuk ke dalam 5%.. tidak.. itu mungkin masih terlalu besar.. 1% manusia di dunia yang beruntung.

Pernahkah kita berfikir ”Bagaimana ya kalau saya bukan dilahirkan di lingkungan yang sekarang ini saya tinggali?”. Pernahkah kita befikir ”Bagaimana ya kalau Tuhan ternyata menentukan saya lahir sebagai orang miskin yang tinggal.... let’s say... ngga usah jauh-jauh deh.. Gunung Kidul?” (Gunung Kidul adalah kabupaten di DI Jogjakarata yang sebagian besar tanahnya adalah endapan kapur, membuat akses air bersih cukup sulit). Gunung Kidul pun sebenarnya mungkin masih bagus... Bagaimana kalo teman-teman lahir sebagai orang Korea Utara yang hidup didalam kegelapan? Negara Afrika yang kelaparan? Negara-negara yang memaksa anak laki-laki untuk berperang? We need to be thankful and grateful if we can live our lives as we live it today.

Saat ini beberapa dari kita berfikir.. kalau lulus nanti mau jadi apa ya? Ada yang berfikir jadi engineer, businessman, enterpreneur, professor, investor, dan segala macam yang kelihatannya keren. Adakah yang berfikir jadi sukarelawan yang mau memperbaiki kehidupan orang-orang di pedalaman? Teman-teman yang mungkin berfikir jadi dokter, dimana impian teman-teman menempatkan teman-teman? Jakarta? Singapore? Surabaya? Ataukah impian itu menempatkan teman-teman di tempat seperti Timor-timur, pedalaman Irian Barat, dan tempat-tempat yang lebih memerlukan dokter tapi terpencil?

How can we live a good life when we know that there are countless others that need our help? Those who beg down and cry in prayers just to be able to live safe and eat once a day? Where are we Christian when the world needs us most? Or are we sheltered here in our comfort zone and our dream of living a good, but egoistic life? Where are you Christians? And where are we, when we know that there are others who haven’t heard the work of our Lord Jesus Christ that sets us free?

“Siapa mengolok-olok orang miskin menghina Penciptanya; siapa gembira karena suatu kecelakaan tidak akan luput dari hukuman” (Amsal 17:5). Kita mungkin tidak mengolok-olok secara langsung dengan mulut kita. Tapi apakah kehidupan kita sudah menjadi kehidupan yang peduli dengan mereka yang terhilang? “Kemewahan tidak layak bagi orang bebal” (Amsal 19:10a)

0 comments:

Forewords

There was a time when I lost my desire to write and to share. There was a time when I didn't see the point of doing a blog to express my thought. I am who I am though, inconsistent as I am in doing this blog, but I do want to share and I do long to write. Today I'm giving it another go. Fingers crossed. But I still wish that "Let there be light" is the message that I convey.
  • January 1st 2012, Kristo